Selasa, 21 Oktober 2008

Siti Solihah

Posisi Bahasa Jurnalistik

BAHASA yang digunakan oleh media massa (bahasa jurnalistik) menempati posisi tersendiri, sebab bahasa jurnalistik lebih dahulu, lebih sering, dan lebih banyak sampai ke khalayak serta lebih banyak dipakai dan dijadi-kan acuan bagi masyarakat. Karena itu, bahasa jurnalistik berpengaruh besar bagi masyarakat.

Dalam ragam bahasa jurnalistik juga mengenal kata serapan, termasuk kata serapan dari Bahasa Arab. Namun, hingga saat ini pedoman penulisan transliterasi tersebut masih bias, sehingga banyak sekali perbedaan penulisan antara media satu dan lainnya. Hal itu sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat/pembaca yang ingin menirunya.

Dari diskusi "Transliterasi Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia: Studi Banding KBBI" di Suara Merdeka (24/11) lalu, terdapat perbedaan mencolok antara pedoman transliterasi yang digunakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sebagai pedoman yang memiliki legitimasi dari Departemen Pendidikan Nasional,dan Pedoman Transliterasi Arab-Latin (PTAL) terbitan Departemen Agama RI,yang saat ini selalu dipakai oleh kalangan akademik.

Pedoman transliterasi dalam KBBI dilakukan melalui tiga cara, yakni penyesuaian huruf, penerjemahan, dan penggabungan penyesuaian dan penerjemahan, sedangkan PTAL merupakan hasil kesepakatan para ahli Bahasa Arab dan ulama.

Penulisan kata serapan Bahasa Arab dalam KBBI mudah diaplikasikan oleh kalangan jurnalis ke dalam tugas-tugas penulisan dan secara teknis familiar terhadap perangkat dunia percetakan umum di Indonesia, tetapi persentase penulisan kata itu banyak sekali jauh dari kaidah-kaidah ilmiah sehingga maknanya pun sering menyimpang.

Sementara itu, argumentasi PTAL dapat dipertanggungjawabkan terhadap kaidah-kaidah ilmiah, namun secara teknis menyulitkan dalam perangkat dunia percetakan umum di Indonesia. Tidak semua simbol-simbol tertentu dalam PTAL familiar terhadap perangkat yang ada. Untuk dapat diaplikasikan ke dalam dunia percetakan, para teknisi harus memasang perangkat tertentu yang dikenal dengan Install Arabic.

Pedoman yang Aman

Ada satu hal menarik dalam diskusi tersebut, yakni alternalif pedoman transliterasi yang ditawarkan oleh Prof Dr Syamsul Hadi SU MA (UGM). Pedoman alternatif itu bertujuan untuk meminimalisasi kesalahan penulisan dari kaidah-kaidah ilmiah, sehingga kalangan ahli Bahasa Arab baik dari ulama, akademik, maupun jurnalistik dapat menerimanya secara teoretis dan praktis.

Dari segi teknis juga tidak menyulitkan dunia percetakan. Namun, sejauh ini usulan tersebut masih belum mendapat pengakuan dan saat ini hanya digunakan secara konsisten oleh pihak intern.

Ketiga pedoman transliterasi Bahasa Arab di atas memiliki kekuatan argumentasi sendiri-sendiri, sehingga wajar bila kaum jurnalistik bimbang untuk konsisten terhadap satu pedoman saja. Saat ini literatur resmi dan pedoman utama yang masih digunakan oleh para jurnalis untuk mengantisipasi kesalahan penulisan transliterasi itu adalah KBBI, namun masing-masing personal redaksi acap kali tidak berterima dengan KBBI.

Mereka mencoba beradu argumentasi dengan segala alasan dan latar belakang kemampuan pengetahuan bahasa mereka yang beragam. Karena itu, KBBI mutlak harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah agar tidak menimbulkan pertentangan penulisan bagi para jurnalis.

Untuk mengatasi segala polemik bahasa yang sering muncul tersebut, pada akhirnya kekuatan kekuasaan masing-masing redaksi menyudahinya dengan cara menetapkan kesepakatan secara intern dan hal itu dianggap sah serta menjadi keputusan final sebuah redaksi, meski di luar koridor tersebut masih menjadi pertentangan kecil bagi masing-masing personel.

KBBI Berkualitas

Mungkin masih banyak lagi alternatif-alternatif dari para ahli bahasa lain yang belum tersosialisasikan, sehingga dibutuhkan suatu forum formal untuk menampung segala usulan tersebut. Kemudian dikaji bersama lebih dalam, dengan melibatkan para ahli Bahasa Arab, akademisi, ulama ñyang intens terhadap pemakaian buku-buku berbahasa Arab-, dan jurnalis -sebagai garda depan pemakai bahasa yang baik dan benar-. Selanjutnya diharapkan tercapai kesepakatan sesuai yang diharapkan. Kapan tujuan mulia itu dapat terwujud? Semoga Pusat Bahasa sebagai lembaga resmi yang didirikan pemerintah mampu menjadi pencetus ide awal dan mediator yang baik.

Menyinggung soal isu penerbitan KBBI IV pada akhir 2008, ada baiknya bila segera dilakukan langkah konkret bagi pertemuan forum formal tersebut.

Kita tidak tahu persis sejauh mana penggodokan entri-entri kata baru yang akan masuk ke dalam KBBI IV nanti, termasuk entri serapan dari Bahasa Arab. Untuk itu, sebelum terlambat, masukan ataupun informasi dari semua pihak perlu diperhatikan demi perbaikan kualitas KBBI IV.

Sebagaimana tertulis dalam halaman Latar Belakang Perkamusan KBBI, "Öpenelitian kamus harus didukung oleh penelitian yang mendalam dan berkelanjutan...", mungkin harus ditambahkan pula"Öserta melibatkan lebih banyak pihak-pihak yang berkompetenÖ" (11)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda